my self scumbeg

Dia Dan Aku»»more..

Story. Kiriman Cerita dari Tursi


my self scumbeg

Sebuah Catatan Perjalanan»»more..

Story. Kiriman Cerita dari Tursi

my self scumbeg

Ini ceritaku, Apa ceritamu?»»more..

kirimkan cerita anda ke: catatan@myself.com

Happy Birtday



Selamat ulang tahun mba..


oleh Syaeful Amin, 18-09-2013



" Hey.. Putri Dom ingusan ".

Apakabar hatimu? Masihkah ia seperti embun? Merunduk perlahan dipucuk daun..
Masihkah ia seperti karang? Berdiri tegar menghadapi gelombang ujian..
Apakabar imanmu? Masihkah ia seperti bintang?
Terang benderang menerangi kehidupan..

Ga ada lagi cerita cinta, canda tawa, dan kisah kita berdua sekarang.
kita berjalan pada persimpangan yang berbeda, Aku ke Jakarta dan kamu ke Bandung. Jarak yang tidak begitu jauh tapi bisa menguras keringat hati dan pikiran.
Begitu sulit untuk dipertemukan..
Begitu sulit untuk dipersatukan..
Karena kita sudah cukup jauh berjalan pada persimpangan yang berbeda dan tak berujung.

Aku rindu masalalumu
Aku rindu tangisanmu
Aku rindu tingkah bodohmu
Dan Aku rindu semuanya tentang kamu. se..mu..a..nyaa...

Apapun yang terjadi kalau nanti diantara kita menjadi orang yang sukses, jangan pernah melupakan perjuangan, dukungan, dan kasih sayang tempo dulu.
"gatau tempo dulu kapan?"

Ya.. Jalan kita mungkin berputar, tapi suatu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan, untuk itu teman.

" HAPPY BIRTHDAY TO YOU "


Semoga menjadi orang yang beruntung dan berguna bagi orang banyak.
Lebih banyak belajar dan belajar banyak.
Kesehatan dan lain sebagainya ikut serta untukmu mba. yes.. :)



»» Read more → Happy Birtday

Contoh ERD dan LRS



ERD (Entity Relationship Diagram) dan LRS (Logical Record Structure)




ERD (Entity Relationship Diagram)


LRS (Logical Record Structure)


» Download File .doc ERD & LRS


»» Read more → Contoh ERD dan LRS

Kesempatan Ke 2



Masih ada kesempatan untuk kedua..


oleh Syaeful Amin, 10-12-2012



"kesempatan itu hanya datang satu kali".
Kesempatan yang tidak mungkin terulang pada waktu yang sama pada saat itu. disaat dihadapkan pada sesuatu yang antah brantah.
Kesempatan juga bisa datang lebih dari satu kali (Y), tergantung siap atau tidaknya kita dalam mengambil setiap kesempatan yang ada.
sudah sangat baik sekali bila kesempatan datang lalu kita mengambilnya dengan sangat baik pula.

Pada kasus ini saya akan berbagi cerita dengan teman setia pembaca blog. Next..
Senin, 10-12-12. Hari dimana awal mulanya orang-orang mulai beraktifitas kembali setelah hari libur, Minggu.
Pukul 17.15 saya tiba di kampus, biasa budaya ngaret sudah berakar kokoh untuk orang indonesia.
Pintu ruangan aku ketuk dan kubuka. benar saja dugaan saya kalau matakuliah yang di bahas baru dimulai teng. Aku duduk dan aku buka tas, sambil liat kedepan papan tulis aku ambil laptop, buku, serta pulpen. si dosen pun mulai ceramah dari a sampai z blaa..blaa..blaaa.
Sedikit mengerti, banyak berpikir. entah apa yang ada dipikiran saya kalau banyak berpikir tentang sesuatu yang tak pasti itu malah bikin otak memutari halaman kampus seribu kali.
terus terang kalau dari awal sering telat di matakuliah ini, saya bermalas-malasan untuk belajar.
kedepannya mungkin gak jelas, banyak ketinggalan dari awal pertemuan semester genap. Rencananya kalau banyak yang ketinggalan di pertemuan pertama tadi, saya akan mengulang kembali materi yang belum saya pahami dan mengerti.
Tapi tidak demikian, kesempatan untuk memahami dan mempelajari keterlambatan yang lalu dalam pemahaman materi itu tidak ada. bisa saja sih memakai waktu jam istirahat di malam hari, itu juga kalau masih mampu untuk begadang.
Sedikit menyesal juga dengan apa yang saya perbuat untuk hal buruk yang sulit aku ubah ini dengan bijak.

"Selagi ada kesempatan, kita harus memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. karena kesempatan yang hilang jarang bisa ditemukannya lagi."


Pukul 18.30 on time masuk kelas pada matakuliah dan ruangan yang berbeda.
Ada tugas kelompok dan dipresentasikan di depan kelas.
kelompok kami mengeluarkan catatan tugas. Dibuka, dilihat, dan dibaca. kemudian saling memahami kepada teman satu kelompok lainnya.
Apa yang terjadi?
Tugas membuat program yang kami buat itu tidak tau penjelasannya dari mulai tipe data maupun perintah For (perulangan) untuk animasi program yang kami kerjakan selama satu minggu kebelakang.
Mungkin banyak berbagai alasan dan kondisi sebagai penghalangnya.
disatu sisi bahwa semua teman kelompok mempunyai kesibukan tersendiri sama pekerjaan kesehariannya, dan sisi yang lain tidak responnya untuk masalah tugas, tugas, dan tugaaass. ah males gila tugas kali ini, tidak mengerti.

Pengundian urutan kelompok untuk presentasi sedang dilakukan.

Pertama urutan kelompok sudah dapat (kelompok 9), kemudian selajutnya (kelompok 5). tinggal satu kelompok lagi untuk presentasi dipertemuan kali ini. Jantung berdetak kencang, pikiran kacau, serta keringat tercucur membasahi bumi pertiwi ketika (kelompok 2) kelompok saya sendiri mendapat giliran ketiga untuk presentasi.
Oh My God..
Tangan bergetar, pikiran kosong, dan aku hanya bisa terdiam membisu untuk menerima kenyataan ini.
Kelompok 9 pun maju kedepan, menjelaskan hasil presentasinya. bla bla bla.. selesai. terus berlanjut kelompok 5. bla bla bla... selesai juga.
Waktu udah menunjukan pukul 21.00. Pikiran bimbang antara ada dan tiada.

Lanjut..
setelah dua kelompok tadi telah menyelesaikan tugasnya, sekarang giliran kelompok saya.
sebelum maju kedepan, si dosen berbicara dahulu. sepatah dua patah yang menjelaskan bahwa kelompok saya (kelompok 2) mendapat kesempatan minggu depan dikarenakan waktunya sudah habis.
Yeess... Hatiku tertawa kegirangan. Alhamdulillah masih ada kesempatan ke 2 buat hal terpenting ini.

Jadi..
Kelompok saya termasuk orang-orang yang beruntung mendapatkan kesempatan ke 2.
karena "Keberuntungan itu adalah perpaduan antara kesiapan dan kesempatan; jika kau siap ketika kesempatan datang, maka kau beruntung."




»» Read more → Kesempatan Ke 2

Aku Dan Dia



Dia Dan Aku

oleh Tursi, 09-11-2012



Sekali lagi sebelum memutar kenop pintu ku arahkan pandangan ke ruangan depan kamar. Kamar bernomor 21 itu terlihat gelap, penerangan didalamnya tidak dinyalakan padahal hari sudah beranjak sore. Bisa ditebak dengan mudah jika pemiliknya sedang tidak ada di tempat. Setelah menyalakan saklar lampu dekat jendela, kurebahkan tubuh yang memang sudah lelah tingkat dewa. Ku pejamkan mata, seketika ingatan tentang penghuni kamar depanku itu melintas begitu saja tanpa diminta.

Sebut saja penghuni kamar itu dia. Aku terlalu malas untuk menyebutkan nama atau sekedar memberikan nama samaran untuknya. Aku dan dia telah berteman sejak dua tahun lalu, ketika sama-sama menjadi mahasiswa baru. Karena berada di kelas yang sama, membuat aku dan dia semakin menjadi teman dekat satu sama lain dalam kelompok kecil bersama beberapa teman perempuan lainnya. Setelahnya aku dan dia menjadi seperti kebanyakan perempuan lain yang akan bercerita banyak hal jika telah merasa dekat dan tentu saja nyaman terhadap seseorang. Dia kerap kali bercerita tentang masalah keluarga yang membuatku semakin mensyukuri posisiku sekarang sekaligus menjadikanku merasa dia memiliki beban hidup yang tak mudah.

Pertemanan kami semakin dekat ketika menginjak tingkat dua, dia memutuskan untuk bergabung bersama denganku di asrama. Tentu saja aku sangat senang mendengarnya terlebih ketika mengetahui bahwa kamar dia terletak tepat didepan kamarku. Hari-hari selanjutnya kami telah banyak berbagi satu sama lain dan memiliki waktu banyak untuk dihabiskan berdua di asrama. Tapi sayangnya hal itu tidak berlangsung lama, sekitar sebulan setelah kepindahannya dia kerap menginap di tempat seorang teman yang merupakan anggota dari kelompok kecil kami. Dia sempat mengatakan takut jika berada sendirian dikamarnya. Saat itu aku hanya menghela napas mendengarnya, mengingat tiga hari dalam seminggu aku akan pulang ketika hari sudah larut malam, ku terima alasannya dengan anggukan kepala. Awalnya dia akan menginap ketika jadwal kepulanganku ke asrama terlambat, seiring berjalannya waktu frekuensi menginap dia semakin sering, kini dalam seminggu dia bisa menghabiskan waktu lima hari untuk menginap di tempat yang sama.

Akhir-akhir ini ketika datang bulan perutku terasa begitu sakit. Tak jarang juga wajahku menjadi pucat di dua hari pertama menstruasi. Saat itu ketika sedang duduk menyantap makanan ringan bersama dia dan beberapa teman kelas di taman dekat kantin kampus, kurasakan sakit luar biasa melilit perutku. Belum lagi rasa mual yang menjadi membuatku semakin tidak dapat mengendalikan diri. Akhirnya aku pulang dengan diantarkan seorang teman laki-laki. Tak banyak yang kulakukan ketika sudah berada didalam kamar selain memegangi perut sambil sesekali membalurkan minyak kayu putih dibagian yang sakit dengan air mata yang terus bergulir. Aku terlelap setelah meminum obat dan memakan sepotong roti keju. Aku membuka mata ketika hari telah gelap. Kurasakan rasa sakit diperutku telah reda. Kuhidupkan lampu kamar sembari membuka jendela depan membiarkan udara dari luar masuk lebih banyak. dari jendela dapat ku lihat kamar dia gelap. Mungkin dia terlambat pulang karena ada urusan, mana mungkin dia tega membiarkanku sendiri dengan kondisi sakit seperti ini. Aku mencoba berpikir positif, lebih tepatnya menghibur diri. Hingga menjelang pukul 10 malam, dia belum juga pulang. Pikiranku sudah sejak tadi tidak dapat dikendalikan. Kukirimkan pesan pendek untuk mengkonfirmasi keberadannya yang sebenarnya sudah kuketahui berada dimana. Hampir lebih dari satu jam belum juga ada pesan balasan, Kududukan tubuhku disamping kasur yang berantakan, perlahan buliran bening itu kembali menyeruak keluar. Bukan, bukan karena perutku kembali terasa sakit, kali ini aku menangis karena dia telah membuat hatiku kembali menjadi sakit.

Beberapa hari setelah kejadian itu, sikapku menjadi sedikit berubah kepada dia. Tanpa sadar aku mengurangi interaksi dengannya, pun jika kondisi membuat kami harus saling berbicara aku hanya mengeluarkan sedikit kata. Padahal di hari biasa aku akan selalu mendominasi pembicaraan bukan saja diantara obrolanku dengan dia melainkan dengan tema-teman kelompok kecilku lainnya. Dia bukan orang bodoh untuk tidak menyadari apa yang sedang terjadi, tapi berpura-pura seolah tidak tahu dan tidak terjadi apa-apa adalah sikap yang diambilnya. Sebenarnya aku juga ingin bersikap seperti dia, tapi sayangnya ingatan akan masalah yang dia miliki membuatku mau tidak mau harus berdamai dengan hatiku sendiri. Mencoba memaafkan dia dengan luka hatiku belum tertutup sepenuhnya.

Sebenarnya sebelum insiden datang bulanku ini, dia telah membuat hatiku sakit sebanyak dua kali. Kejadiannya sudah lama, ketika kami berada ditingkat pertama. Pertama kali aku merasakan sakit hati ketika kami menginap bersama di tempat seorang teman dengan tujuan awal belajar kelompok untuk mempersiapkan bahan ujian harian minggu depan. Sembari menyantap makan malam mereka mulai membuat lelucon-lelucon konyol. Mungkin aku akan ikut tertawa bersama mereka jika saja objek lelucon itu bukan aku. Tentu saja aku tidak suka dibullying seperti itu dan kurasa semua orang juga tidak akan menyukainya jika berada diposisiku sekarang. Setelah selesai makan, kembali kukemasi beberapa buku yang berserakan diatas meja dengan gusar kumasukan kedalam tas. Aku berhasil keluar dari tempat itu setelah sebelumnya berbohong jika perutku mendadak sakit dan aku akan sangat merasa merepotkan jika tetap berada bersama mereka. Seperti tidak peka, mereka percaya saja dengan apa yang kukatakan, tanpa merasa 10 menit yang lalu mereka telah menorehkan luka dihatiku yang kini mulai terasa sakit. Malam itu, saat bulan enggan muncul dari balik awan, aku berjalan sendiri menyusuri jalanan yang mulai sepi sambil sesekali menyeka buliran air mata di pipi.

Lama berselang, setelah aku memaafkan kesalahan yang mungkin selamanya tidak akan mereka sadari dia mengatakan hal yang membuat hatiku kembali sakit. Malam itu ketika kami sedang menonton pertunjukan musik melalui televisi di tempat teman yang sama ketika belajar kelompok dulu, dia mengatakan jika aku adalah seorang fans yang fanatik. Aku memang menyukai Shem – penyanyi muda yang tengah naik daun – itu sejak lama. Tapi jika ada orang yang mengatakan jika kesukaanku terhadap Shem adalah fanatik kurasa aku tidak akan menerimanya dengan mudah, jika melihat perlakuan maupun sikap yang kutunjukan ketika sedang membicarakan Shem sama sekali tidak berlebihan. Memang semua orang akan memiliki argument tersendiri untuk mempertahankan jika opini dirinya-lah yang paling benar, termasuk kasusku tadi. Mungkin aku sedikit akan bertoleransi jika yang mengatakan orang lain yang tidak memiliki kedekatan personal denganku. Tapi ini dia yang mengatakan, seseorang yang entah sejak kapan memiliki predikat salah satu teman dekatku. Rasanya seperti dia baru mengenalku dan langsung menjudge-ku dengan pendapat konyolnya di hari pertama kami mulai berteman. Tentu saja setelah pernyataan dia moodku turun dengan sempurna. Dan sialnya kali ini tidak ada yang bisa kulakukan selain bertahan hingga esok pagi mengingat jam digital dilayar ponselku telah menunjukan pukul 23.40 wib. Dan malam itu menjadi salah satu malam terberatku. Kuhabiskan sisa malam dengan hujan air mata dalam diam. Aku baru benar-benar berhenti menangis ketika kedua kelopak mataku telah menutup sempurna.

Seperti kejadian sebelumnya, aku telah kembali berdamai dengan hatiku dan dia ketika bayangan itu – kau tentu sudah paham maksudku – kembali menghantuiku dan membuatku sedikit merasa bersalah telah mendiamkan dia. Aku pikir tidak akan ada lagi kejadian yang membuatku harus kembali mengalah kepada dia mengingat hatiku telah terluka sebanyak tiga kali. Jumlah yang cukup banyak jika melihat perjalanan pertemanan kami yang baru menginjak dua tahun. Tapi sepertinya harapanku harus kubuang jauh-jauh. Luka itu kembali terbuka untuk yang ke empat kalinya, setelah luka ini aku tidak akan tertarik lagi untuk menghitung jumlah luka yang mungkin akan terus bertambah.

Dua minggu yang lalu seorang dosen perempuan menugaskan kami untuk mengerjakan tugas dengan berkelompok. Kebetulan aku satu kelompok dengan dia dan bersama tiga teman lainnya. Sejak awal aku memang telah memiliki firasat akan mendominasi dalam menyelesaikan pembuatan tugas ini. Proses pengerjaan tugas sudah 85% ketika aku harus kembali terlambat pulang kemarin malam. Sebelumnya ketika di kelas aku telah berpesan kepada dia setelah aku pulang akan kembali mengerjakan tugas tersebut mengingat dua hari lagi tugas itu harus dikumpulkan. Tapi apa yang terjadi, ketika sampai di asrama kamar dia terlihat gelap. Dia kembali menginap padahal dia tahu dia memiliki tanggung jawab yang harus dia kerjakan malam ini dan seenaknya melimpahkan kepadaku untuk menanggung semua penyelesaian tugas itu. Tidakkah dia tahu jika seharian tadi energiku terkuras habis dengan berbagai aktivitas yang kulakukan hingga pulang dalam keadaan larut. Sungguh waktu itu aku benar-benar dibuat geram olehnya. Pesan yang dia kirimkan sama sekali tak aku tanggapi. Ketika keesokan hari kami bertemu di kelas dia menanyakan tentang tugas. Aku sempat tertawa dalam hati meski tak lama. Lucu sekali dia. Aku menjawab pertanyaan konyolnya singkat saja. Ada rasa marah yang masih tertinggal disudut hatiku dan aku merasa kali ini dia sudah keterlaluan. Dia yang kini tengah berdiri didepanku terlihat begitu egois dengan muka innocent, benar-benar membuatku ….. – bahkan aku tidak dapat menemukan kata untuk menggambarkan keadaan hatiku sekarang.

Kenapa hanya dia yang boleh egois? Kenapa harus aku yang terus mengalah dan memikirkan masalah dia akan semakin bertambah jika aku tidak mengalah. Kenapa harus aku yang selalu menjaga perasaannya dan membuatku seakan menjadi orang yang sangat munafik untuk diriku sendiri. Ya Tuhan bahkan dia telah memiliki masalah itu sejak kami belum bertemu. Apa karena kami adalah teman sudah seharusnya aku bersikap seperti itu? Atau karena aku menganggap dia seorang teman dengan dasar tidak tulus dan menuntut dia membalas kebaikan-kebaikan apa saja yang telah aku berikan kepadanya? Entahlah aku merasa berada disisi yang benar sedangkan dia sisi sebaliknya tapi takdir selalu membuatku terlihat seperti orang jahat dimataku sendiri dan mungkin juga dimata dia. Aku tergugu sendiri disudut koridor yang mulai sepi berperang melawan pikiranku sendiri. Sungguh aktivitas seperti ini sangat melelahkan. Melihat hari sebentar lagi akan menjemput sore membuatku beranjak dari tempatku duduk dan mulai berjalan dengan enggan.

Ku buang berkali-kali napas sambil mengerjapkan mata dengan cepat. Mencoba menghalau bayangan tentang dia untuk tidak bertahan lebih lama lagi didalam pikiranku. Kulihat jam diatas meja, sudah pukul 17.45 wib. Ku paksakan tubuhku untuk bertemu air meski aku tahu sedang tidak ingin melakukan apa-apa sekarang. Selesai mandi, aku merasa lebih segar dan beberapa beban pikiran seperti menghilang meski untuk sementara. Kubuka pintu kamar, dan kutemukan kamar depanku masih terlihat seperti saat aku pulang, gelap. Dia tentu saja akan kembali menginap. Kulewati beberapa kamar disisi kiri kamarku menuju balkon samping asrama. mencoba kembali melakukan ritual kesunyian yang akhir-akhir ini telah jarang kulakukan. Setelah berdiam diri dalam waktu yang cukup lama aku telah memutuskan untuk benar-benar menjadi seperti orang jahat. Kali ini aku akan mengijinkan diriku untuk menjadi egois terhadap dia dan tidak akan membiarkanku untuk kembali mengalah. Biarkan saja seperti ini sampai takdir merasa bosan dan kemudian memberikan takdir baru untuk dia dan aku. Dan selagi menunggu takdir baru itu aku akan mulai belajar kembali berjalan seorang diri, satu aktivitas yang ketika tingkat pertama kerap kali ku lakukan. Mencoba membiasakan diriku untuk tidak terlalu memikirkan orang lain.

Sepertinya mulai hari ini aku akan berteman erat dengan Tuhan. Tak lama senyumku mengembang. Bergegas kembali kedalam kamar untuk secepatnya bertemu dengan-Nya dalam ritual ibadah. Dalam sujudku aku kembali mendamaikan jiwaku dengan keputusan apapun yang Tuhan miliki untuk hidupku sekarang dan di masa mendatang. Pun jika memang Tuhan menghendaki aku untuk kembali berdamai dengan hatiku agar kembali memaafkan dia aku akan melakukannya, tapi bukan karena aku harus kembali menjaga perasaan dia melainkan karena Tuhanku yang meminta. Ya, itu saja…

Jatinangor, 9 Nopember 2012
06.58 WIB ketika hujan telah reda




»» Read more → Aku Dan Dia